BUDAYA INDONESIA TIMUR (ENDE-FLORES) YANG TERLUPAKAN
Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki pulau terbanyak di dunia. Terdiri dari 17.508 pulau. 9000 diantaranya belum memiliki nama. 746 bahasa daerah. Coba kita bandingkan dengan negara lain. Saya yakin tidak ada satu negarapun di dunia ini yang memiliki pulau sedemikian banyak dan bahasa yang beraneka ragam seperti negara kita Indonesia tercinta ini. Dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Nias sampai pulau Rote terbetang luas hutan tropis yang menambah keasrian negara Indonesia. Seluruh penduduk bumi yang sudah pernah tau dan pernah menjajaki kakinya ke Indonesia pasti sangat mengagumi keindahan Indonesia.
Sebagai warga negara Indonesia tentu saja ada kebanggaan tersendiri di hati saya. Melalui karya tulis saya kali ini sebagai warga negara dan khususnya sebagai warga daerah Ende, Flores saya kagum pada kebudayaan yang ada di daerah saya. Kota Ende hanya sebuah kota kecil yang terletak di tengah pulau Flores Nusa Tenggara Timur. Namun kecilnya kota tersebut bukan berarti kecil pula maknanya. Dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah kota Ende mempuyai sejarah tersendiri. Bahkan saya bisa mengatakan kota Ende merupakan saksi sejarah pemikiran bapak proklamator kita bung Karno. Kala itu pengasingan Soekarno di Ende selama empat tahun pada 1934-1938. Soekarno diasingkan Belanda bersama istrinya, Inggit Gunarsih, juga anak angkat dan mertuanya. Di kota Ende inilah bung Karno sempat bersemedi memikirkan naskah Pancasila. Di bawah pohon Sukun yang sampai sekarang di area pohon sukun tersebut di bangun sebuah prasasti dan dijadikan objek wisata. Kediaman bung Karno terletak di jalan perwira dan sekarang telah menjadi museum bung Karno.
Dari ulasan di atas sebenarnya ada satu kebanggaan warga kota Ende yang ingin saya tuliskan disini. Ini merupakan keunikan tersendiri buat saya dan saya merasakan betapa saya sangat mencintai kebudayaan ini. Yakni adat perkawinan/pernikahan orang Ende. Ketika sepasang kekasih yang telah mapan dan akan melanjutkan ke hubungan yang lebih sacral yakni pernikahan. Kita telah mengetahui begitu banyak adat pernikahan dari berbagai macam daerah di Indonesia, namun untuk adat dari daerah Flores sangat jarang kita temui. Karena itulah saya marasa ini kewajiban yang harus saya publikasikan karena kebudayaan ini tidak jauh menarik dan sangat membanggakan dengan kebudayaan lainnya di Indonesia. Dalam adat perkawinan orang Ende ada beberapa tahapan-tahapan yang harus di lalui. Tahapan-tahapan itu antara lain:
1.Temba Dzasa
Arti sebenarnya dari temba dzasa adalah mencuci rasa. Maksudnya adalah memperkenalkan kedua belah pihak keluarga agar kedua kelurga mengetahui hubungan antara kedua pasangan tersebut. Dalam temba dzasa ini, keluarga dari pihak laki-laki mengutus delegasi dari orang terdekat untuk mendatangi rumah calon pengantin perempuan untuk mengkonsultasikan masalah hubungan sang laki-laki dan perempuan yang sudah saling sayang dan menanyakan apakah pihak keluarga perempuan menyetujui atau tidak dari hubungan kedua pasangan tersebut. Jika disetujui langsung dibicarakan tanggal meminang atau mai ono.
2.Mai Ono
Mai ono arti sebenarnya adalah masuk minta atau lebih kita kenal dengan meminang. Dalam tahapan mai ono ini pihak laki-laki harus membawa persyaratan yang sudah disepakati dalam adat yakni pakaian lengkap wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki beserta jarum dan benang, cincin sebagai ikatan, bha raka (tempat sirih pinang lengkap beserta isinya) dan isi dudza (nanpan berisi) isi dari nampan-nampan tersebut adalah buah-buahan, makanan-makanan, dan pakaian perempuan.
Dalam tahapan ini kedua pihak keluarga langsung membicarakan soal uang belanja yakni keperluan biaya dalam acara pernikahan nanti dan juga dua jenis persyaratan utama dalam adat. Dua persyaratan tersebut yakni
Isi kumba (isi gentong / air bermacam-macam kembang yang akan digunakan untuk memandikan kedua calon pengantin)
Isi ae nio ( air santan kelapa yang digunakan untuk mencuci rambut / keramas)
Isi kumba dan isi ae nio akan dibawa berupa barang yakni pakaian, sarung tenun adat ende, benang, jarum, lipstick, peralatan make up dan semua keperluan perempuan dari ujung rambut sampai kaki. Namun dalam adat ini, pihak perempuanpun harus berbalas membawakan persyaratan namun berupa sejumlah uang yang sudah di keluarkan pihak laki-laki untuk membeli perlengkapan-perlengkapan tersebut.
3.Mendi Belanja
Mendi belanja artinya mengantar belanja atau persyaratan yang sudah di sepakati dalam tahap mai ono. Dalam mendi belanja ini biasanya dalam satu kecamatan hampir seluruh warga setempat ikut menyaksikan karena dalam tahapan ini juga ada sebuah arak-arakan dan para warga juga bisa mengetahui seberapa banyak barang atau syarat yang di ajukan pihak calon pengantin perempuan terhadap pihak laki-laki. Menurut adat rata-rata yang dibawa adalah sejumlah uang belanja minimal 10 juta. Satu ekor sapi jantan besar, dua ekor kambing (jantan dan betina), beberapa ekor ayam. Dan sejumlah persyaratan lain yang telah disepakati dalam tahap mai ono termasuk perlengkapan kamar seperti lemari, tempat tidur, kasur, bantal, guling, seprei dan sebagainya.
Dalam tahapan mendi belanja juga dibicarakan kapan tanggal pernikahan akan di laksanakan.
4.Tandi Kelambu
Sehari sebelum menikah, di sore harinya diadakan tandi kelambu oleh kakak dari ibu pihak perempuan. Tandi kelambu artinya memasang kelambu kamar pengantin sekaligus menghias kamar pengantin. Dalam memasang kelambu tidak sembarang orang yang boleh memasangnya. Dalam adat Ende yang memasang kelambu pengantin adalah kaka perempuan dari Ibu calon pengantin perempuan atau biasa di sebut dengan Ine mere atau mama besar.
5.Pa’i Lakatoba
Pa’i lakatoba artinya malam lakatoba. Dimana calon pengantin perempuan diharuskan memakai daun pacar / lakatoba (pewarna kuku dari tumbuhan pacar) di kuku kaki, tangan dan tangan sampai ke pergelangannya. Yang harus memakaikan pacar adalah saudara laki-laki kandung pihak calon pengantin perempuan. Jika tidak ada maka bisa digantikan oleh sepupu-sepupunya namun harus laki-laki. Pa’i lakatoba dilaksanakan pada malam hari sehari sebelum pernikahan dilangsungkan. Pada malam pa’I lakatoba juga dilaksanakan wasa albana (memukul / membunyikan gendang / albana oleh para tetuah-tetuah adat) sehingga warga setempat paham bahwa keesokan harinya akan diadakan pernikahan.
6.Hari Nika
Hari pernikahan. Pagi hari pengantin laki-laki digiring dengan albana oleh para tetuah adat menuju rumah kediaman calon pengantin perempuan. Juga diantar oleh keluarga besar laki-laki dengan membawa isi dudza berupa pakaian adat Ende Dzawo dan dzambu (sarung Ende dan baju Ende), isi kumba dan isi ae nio berupa pakaian dan makanan, kue-kue. Yang wajib menerima persyaratan atau barang-barang yang dibawa oleh pihak laki-laki adalah paman dari pihak pengantin perempuan. Saat itu juga langsung dib alas dengan memberikan sejumlah uang sesuai harga barang yang telah di bawa oleh pihak laki-laki. Setelah proses serah terima barang dilanjutkan dengan akad nikah dan resepsi jika ada.
7.Pa’i ae dan wasa Albana
Istilah pa’i ae ini dilaksanakan pada malam hari setelah resepsi pernikahan dilaksanakan. Kedua pasangan pengantin diharuskan bergadang satu malam penuh untuk menjaga gentong berisi air berbagai macam kembang. Tujuannya agar air tersebut tetap bersih dan tidak dimasuki oleh kotoran atau gangguan makhluk halus. Mereka juga ditemani oleh lantunan albana atau bunyi gendang yang dimainkan oleh para tetuah-tetuah adat. Sampai pagi.
8.Rio
Rio artinya mandi. Keesokan harinya, kedua pengantin bersiap untuk dimandikan di depan pintu rumah pengantin perempuan. Sebelum mandi keduanya harus mencuci ranbut menggunakan air santan kelapa. Setelah keramas keduanya masuk ke dalam satu sarung adat Ende / dzawo dan dimandikan oleh para tetuah-tetuah adat. Setelah mandi, keduanya diwajibkan memakai pakaian adat tradisional Ende dan di tutup dengan doa selamat oleh kiai atau ustadz setempat.
Demikianlah tahapan-tahapan perkawinan adat Ende. Sungguh sangat disayangkan apabila kebudayan ini terlupakan. Terkadang sesuatu yang telah kita kenal dengan kekurangannya membuat kita seringkali lupa bahwa dibalik kekurangan terdapat sebuah kelebihan yang bahkan kita tidak menyangka hal itu ada. Saya hanya memaparkan sebagian kecil saja budaya local yang ada di Kota Ende. Sesungguhnya masih sangat banyak budaya local di pulau Flores yang saya yakin membuat para pembaca menjadi terbelalak. Di pulau ini banyak bahasa daerah yang sangat berbeda dari satu kecamatan dengan kecamatan lainnya bahkan satu desa dengan desa lainnya. Sungguh di luar dugaan jika kita bandingkan dengan daerah-daerah lain yang mungkin juga memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda.
Selanjutnya semoga ini bisa menjadi ajang untuk memperkenalkan betapa luar biasa kebudayaan yang dimiliki oleh negeri kita Indonesia ini. Menambah jiwa nasionalisme kita. Kecintaan kita terhadap produk-produk termasuk budaya-budaya lokal. Semoga tulisan ini bermanfaat.
BIODATA PENULIS
Nama : Ade Irma Arafah
Tempat/Tgl Lahir : Ende, 18 Agustus 1986
Alamat Rumah : Jl. Kathedral lorong samping CAR
RT/RW : 01/01 Kel. Tetandara Kec. Ende Selatan
Ende-flores-NTT
Alamat di Malang : Jl. Sunan Ampel No.10 Malang-Jawa Timur
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
No Tlp/HP : 085234018912
Email : ade_elsyafirah at yahoo.com