musyafir ilmu

Just another Blogdetik.com weblog

BUDAYA INDONESIA TIMUR (ENDE-FLORES) YANG TERLUPAKAN

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — ade1808 at 4:12 pm on Kamis, September 3, 2009  Tagged

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki pulau terbanyak di dunia. Terdiri dari 17.508 pulau. 9000 diantaranya belum memiliki nama. 746 bahasa daerah. Coba kita bandingkan dengan negara lain. Saya yakin tidak ada satu negarapun di dunia ini yang memiliki pulau sedemikian banyak dan bahasa yang beraneka ragam seperti negara kita Indonesia tercinta ini. Dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Nias sampai pulau Rote terbetang luas hutan tropis yang menambah keasrian negara Indonesia. Seluruh penduduk bumi yang sudah pernah tau dan pernah menjajaki kakinya ke Indonesia pasti sangat mengagumi keindahan Indonesia.
Sebagai warga negara Indonesia tentu saja ada kebanggaan tersendiri di hati saya. Melalui karya tulis saya kali ini sebagai warga negara dan khususnya sebagai warga daerah Ende, Flores saya kagum pada kebudayaan yang ada di daerah saya. Kota Ende hanya sebuah kota kecil yang terletak di tengah pulau Flores Nusa Tenggara Timur. Namun kecilnya kota tersebut bukan berarti kecil pula maknanya. Dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah kota Ende mempuyai sejarah tersendiri. Bahkan saya bisa mengatakan kota Ende merupakan saksi sejarah pemikiran bapak proklamator kita bung Karno. Kala itu pengasingan Soekarno di Ende selama empat tahun pada 1934-1938. Soekarno diasingkan Belanda bersama istrinya, Inggit Gunarsih, juga anak angkat dan mertuanya. Di kota Ende inilah bung Karno sempat bersemedi memikirkan naskah Pancasila. Di bawah pohon Sukun yang sampai sekarang di area pohon sukun tersebut di bangun sebuah prasasti dan dijadikan objek wisata. Kediaman bung Karno terletak di jalan perwira dan sekarang telah menjadi museum bung Karno.
Dari ulasan di atas sebenarnya ada satu kebanggaan warga kota Ende yang ingin saya tuliskan disini. Ini merupakan keunikan tersendiri buat saya dan saya merasakan betapa saya sangat mencintai kebudayaan ini. Yakni adat perkawinan/pernikahan orang Ende. Ketika sepasang kekasih yang telah mapan dan akan melanjutkan ke hubungan yang lebih sacral yakni pernikahan. Kita telah mengetahui begitu banyak adat pernikahan dari berbagai macam daerah di Indonesia, namun untuk adat dari daerah Flores sangat jarang kita temui. Karena itulah saya marasa ini kewajiban yang harus saya publikasikan karena kebudayaan ini tidak jauh menarik dan sangat membanggakan dengan kebudayaan lainnya di Indonesia. Dalam adat perkawinan orang Ende ada beberapa tahapan-tahapan yang harus di lalui. Tahapan-tahapan itu antara lain:
1.Temba Dzasa
Arti sebenarnya dari temba dzasa adalah mencuci rasa. Maksudnya adalah memperkenalkan kedua belah pihak keluarga agar kedua kelurga mengetahui hubungan antara kedua pasangan tersebut. Dalam temba dzasa ini, keluarga dari pihak laki-laki mengutus delegasi dari orang terdekat untuk mendatangi rumah calon pengantin perempuan untuk mengkonsultasikan masalah hubungan sang laki-laki dan perempuan yang sudah saling sayang dan menanyakan apakah pihak keluarga perempuan menyetujui atau tidak dari hubungan kedua pasangan tersebut. Jika disetujui langsung dibicarakan tanggal meminang atau mai ono.
2.Mai Ono
Mai ono arti sebenarnya adalah masuk minta atau lebih kita kenal dengan meminang. Dalam tahapan mai ono ini pihak laki-laki harus membawa persyaratan yang sudah disepakati dalam adat yakni pakaian lengkap wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki beserta jarum dan benang, cincin sebagai ikatan, bha raka (tempat sirih pinang lengkap beserta isinya) dan isi dudza (nanpan berisi) isi dari nampan-nampan tersebut adalah buah-buahan, makanan-makanan, dan pakaian perempuan.
Dalam tahapan ini kedua pihak keluarga langsung membicarakan soal uang belanja yakni keperluan biaya dalam acara pernikahan nanti dan juga dua jenis persyaratan utama dalam adat. Dua persyaratan tersebut yakni
Isi kumba (isi gentong / air bermacam-macam kembang yang akan digunakan untuk memandikan kedua calon pengantin)
Isi ae nio ( air santan kelapa yang digunakan untuk mencuci rambut / keramas)
Isi kumba dan isi ae nio akan dibawa berupa barang yakni pakaian, sarung tenun adat ende, benang, jarum, lipstick, peralatan make up dan semua keperluan perempuan dari ujung rambut sampai kaki. Namun dalam adat ini, pihak perempuanpun harus berbalas membawakan persyaratan namun berupa sejumlah uang yang sudah di keluarkan pihak laki-laki untuk membeli perlengkapan-perlengkapan tersebut.
3.Mendi Belanja
Mendi belanja artinya mengantar belanja atau persyaratan yang sudah di sepakati dalam tahap mai ono. Dalam mendi belanja ini biasanya dalam satu kecamatan hampir seluruh warga setempat ikut menyaksikan karena dalam tahapan ini juga ada sebuah arak-arakan dan para warga juga bisa mengetahui seberapa banyak barang atau syarat yang di ajukan pihak calon pengantin perempuan terhadap pihak laki-laki. Menurut adat rata-rata yang dibawa adalah sejumlah uang belanja minimal 10 juta. Satu ekor sapi jantan besar, dua ekor kambing (jantan dan betina), beberapa ekor ayam. Dan sejumlah persyaratan lain yang telah disepakati dalam tahap mai ono termasuk perlengkapan kamar seperti lemari, tempat tidur, kasur, bantal, guling, seprei dan sebagainya.
Dalam tahapan mendi belanja juga dibicarakan kapan tanggal pernikahan akan di laksanakan.
4.Tandi Kelambu
Sehari sebelum menikah, di sore harinya diadakan tandi kelambu oleh kakak dari ibu pihak perempuan. Tandi kelambu artinya memasang kelambu kamar pengantin sekaligus menghias kamar pengantin. Dalam memasang kelambu tidak sembarang orang yang boleh memasangnya. Dalam adat Ende yang memasang kelambu pengantin adalah kaka perempuan dari Ibu calon pengantin perempuan atau biasa di sebut dengan Ine mere atau mama besar.
5.Pa’i Lakatoba
Pa’i lakatoba artinya malam lakatoba. Dimana calon pengantin perempuan diharuskan memakai daun pacar / lakatoba (pewarna kuku dari tumbuhan pacar) di kuku kaki, tangan dan tangan sampai ke pergelangannya. Yang harus memakaikan pacar adalah saudara laki-laki kandung pihak calon pengantin perempuan. Jika tidak ada maka bisa digantikan oleh sepupu-sepupunya namun harus laki-laki. Pa’i lakatoba dilaksanakan pada malam hari sehari sebelum pernikahan dilangsungkan. Pada malam pa’I lakatoba juga dilaksanakan wasa albana (memukul / membunyikan gendang / albana oleh para tetuah-tetuah adat) sehingga warga setempat paham bahwa keesokan harinya akan diadakan pernikahan.
6.Hari Nika
Hari pernikahan. Pagi hari pengantin laki-laki digiring dengan albana oleh para tetuah adat menuju rumah kediaman calon pengantin perempuan. Juga diantar oleh keluarga besar laki-laki dengan membawa isi dudza berupa pakaian adat Ende Dzawo dan dzambu (sarung Ende dan baju Ende), isi kumba dan isi ae nio berupa pakaian dan makanan, kue-kue. Yang wajib menerima persyaratan atau barang-barang yang dibawa oleh pihak laki-laki adalah paman dari pihak pengantin perempuan. Saat itu juga langsung dib alas dengan memberikan sejumlah uang sesuai harga barang yang telah di bawa oleh pihak laki-laki. Setelah proses serah terima barang dilanjutkan dengan akad nikah dan resepsi jika ada.
7.Pa’i ae dan wasa Albana
Istilah pa’i ae ini dilaksanakan pada malam hari setelah resepsi pernikahan dilaksanakan. Kedua pasangan pengantin diharuskan bergadang satu malam penuh untuk menjaga gentong berisi air berbagai macam kembang. Tujuannya agar air tersebut tetap bersih dan tidak dimasuki oleh kotoran atau gangguan makhluk halus. Mereka juga ditemani oleh lantunan albana atau bunyi gendang yang dimainkan oleh para tetuah-tetuah adat. Sampai pagi.
8.Rio
Rio artinya mandi. Keesokan harinya, kedua pengantin bersiap untuk dimandikan di depan pintu rumah pengantin perempuan. Sebelum mandi keduanya harus mencuci ranbut menggunakan air santan kelapa. Setelah keramas keduanya masuk ke dalam satu sarung adat Ende / dzawo dan dimandikan oleh para tetuah-tetuah adat. Setelah mandi, keduanya diwajibkan memakai pakaian adat tradisional Ende dan di tutup dengan doa selamat oleh kiai atau ustadz setempat.
Demikianlah tahapan-tahapan perkawinan adat Ende. Sungguh sangat disayangkan apabila kebudayan ini terlupakan. Terkadang sesuatu yang telah kita kenal dengan kekurangannya membuat kita seringkali lupa bahwa dibalik kekurangan terdapat sebuah kelebihan yang bahkan kita tidak menyangka hal itu ada. Saya hanya memaparkan sebagian kecil saja budaya local yang ada di Kota Ende. Sesungguhnya masih sangat banyak budaya local di pulau Flores yang saya yakin membuat para pembaca menjadi terbelalak. Di pulau ini banyak bahasa daerah yang sangat berbeda dari satu kecamatan dengan kecamatan lainnya bahkan satu desa dengan desa lainnya. Sungguh di luar dugaan jika kita bandingkan dengan daerah-daerah lain yang mungkin juga memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda.
Selanjutnya semoga ini bisa menjadi ajang untuk memperkenalkan betapa luar biasa kebudayaan yang dimiliki oleh negeri kita Indonesia ini. Menambah jiwa nasionalisme kita. Kecintaan kita terhadap produk-produk termasuk budaya-budaya lokal. Semoga tulisan ini bermanfaat.

BIODATA PENULIS

Nama : Ade Irma Arafah
Tempat/Tgl Lahir : Ende, 18 Agustus 1986
Alamat Rumah : Jl. Kathedral lorong samping CAR
RT/RW : 01/01 Kel. Tetandara Kec. Ende Selatan
Ende-flores-NTT
Alamat di Malang : Jl. Sunan Ampel No.10 Malang-Jawa Timur
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
No Tlp/HP : 085234018912
Email :  ade_elsyafirah at yahoo.com

naskah pidato menggali potensi kepemimpinan melalui terilogi kecerdasan

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — ade1808 at 1:37 pm on Rabu, September 2, 2009

“MENGGALI POTENSI KEPEMIMPINAN
MELALUI TRILOGI KECERDASAN”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaturh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan nikmat kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan, untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara, bahkan kepada dunia. Selanjutnya, sebagai seorang muslim, solawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan nabi besar kita Muhammad SAW,
Dewan juri dan para hadirin yang saya hormati,
Beberapa hari yang lalu, sebelum saya mengikuti lomba pidato ini, saya sempat mengikuti lomba karya tulis ilmiah mahasiswa yang selanjutnaya dipresentasikan di depan para dewan juri. Saya teringat akan salah seorang peserta lomba, judulnya sangat menarik, dan cara penyampaiannyapun tidak diragukan lagi. Namun dari sisi penyampaiannya dan penilaiannya terhadap sebuah kasus terlalu tajam dan terlihat emosi yang menggebu-gebu. Sampai terus terang saya adalah salah satu pendengar yang merasa sangat tersinggung dengan kata-katanya. Juri yang awalnya menyaksikan dengan sekasama juga tampak kecewa engan apa yang disampaikan. Inilah salah satu contoh seseoang yang memiliki IQ (intellectual quotient) tinggi namun tidak seimbang dengan EQ (emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient).
Dewan juri dan hadirin yang berbahagia,
Setiap manusia oleh Tuhan telah dikarunia tiga kecerdasan, saya menyebutnya sebagai Trilogi kecerdasan, yakni kecerdasan Intelektual (IQ), kecerdasan Emosional (EQ) dan kecerdasan Spiritual (SQ). Ini bukanlah hal asing bagi kita. Namun untuk membuat ketiga kecerdasan ini seimbang dalam kehidupan kita, pengaplikasiannya sangat sulit. Apalagi jika kita menjadi seorang pemimpin. Untuk memimpin diri kita sendiri belum tentu mampu. Bagaimana harus memimpin orang lain? Baiklah, mari kita kaji satu persatu.
1.Kecerdasan intelektual (IQ)
Kecerdasan ini ditemukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada masanya saat itu, dan ternyata masih juga di Indonesia saat ini. Bahkan untuk masuk ke militer pada saat itu, IQ lah yang menentukan tingkat keberhasilan dalam penerimaan masuk ke militer. Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.
2.Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan emosional, pada otak manusia terletak pada otak bagian belakang. Kecerdasan ini memang tidak mempunyai ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur dengan feeling. Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, bisa terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Banyak orang yang salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual. Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel”
3.Kecerdasan Spiritual (SQ)
Kecerdasan ini pertama kali digagas oleh Danar Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University.  Kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan ini terletak dalam suatu titik yang disebut dengan GOD SPOT.
Kecerdasan inilah yang menurut para pakar sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am“. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?.

Dewan juri dan audience sekalian,
Di dunia ini, di era globalisasi sekarang ini, banyak yang menilai seseorang hanya dari kecerdasan intelektual (IQ) saja. Kita dapat melihat contoh nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkadang kita mendukung seseorang hanya karena ketajaman otaknya dalam intelektual saja tanpa memperhatikan emosional dan spiritual yang belum tentu setajam intelektualnya. Padahal menurut penelitian para pakar, kecerdasan IQ hanya menyumbang 5% (maksimal 10%) dalam kesuksesan seseorang. Mulai dari kita belajar di Sekolah Dasar dari sistem NEM sampai kuliah dengan sistem IPK. Bahkan tidak jarang banyak perusahaan yang merekrut seseorang berdasarkan dari test IQ saja. Begitu pula dalam merekrut seorang pemimpin. Padahal pemimpin adalah seseorang yag teleh kita percayai untuk menuntun kita ke arah yng lebuh baik dan mapan dlam segala hal tanpa menyusahkan kita tentunya.
Baiklah, mari kita melangkah ke permasalahan inti kita,
Landasan EQ dan SQ dalam kepemimpinan
Seorang pemimpin yang hanya berlandaskan pada IQ saja, maka visi dan misi serta orientasi kerjanya sebatas pada hal-hal yang sifatnya materialistis, matematis dan pragmatis, dengan mengenyampingkan hal-hal yang berbau spirituallits dan sentuhan hati nurani. Pencapain visi dan misi oleh pemimpin yang hanya mengandalkan IQ, dilakukan dengan prinsip just do it, sehingga segala bentuk kegagalan ataupun keberhasilan, disikapi sebagai prinsip just a game. bahkan ultimate goal nya juga masih sebatas mancari kepuasan materiil atau duniawi.
Pemimpin yang menerapkan nilai-nilai EQ akan menggunakan hatinya dalam memimpin, tidak semata-mata logika sebagaimana pendekatan IQ di atas. Penerapan EQ ini ditunjukan (dalam Islam) kita kenal dengan sifat sidik (jujur), Tabligh (berani menyampaikan kebenaran), Amanah (terpercaya), dan Fatonah (berpendirian kuat) dalam memimpin. Menurut Shankman dalam “Emotionally Intelligent Leadership” (2008), ada tiga kesadaran yang harus dilatih para pemimpin yang ingin mengembangkan kecerdasan emosionalnya: kesadaran akan diri, kesadaran akan orang lain, dan kesadaran akan konteks. Kesadaran akan diri menuntut kamu jujur mengenali emosi diri. Kesadaran akan orang lain mengharuskan kamu memperhatikan karakter setiap anggotamu atau pemimpinmu dalam organisasi. Kesadaran akan konteks menuntut kamu mengenali lingkungan, budaya ataupun norma tempat kamu bekerja Namun pendekatan EQ ini sasaran akhirnya cenderung masih tetap sama dengan pendekatan IQ yakni sebatas mengejar kepuasan materiil atau duniawi. Konon di dalam dunia pendidikan negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika ada materi tambahan yang berkaitan erat dengan life skill dan leadership. Disitu aspek kejujuran, pemahaman akan individu dan masyarakat, ditambah basic technology diberikan sebagai menu sehari-hari. Namun konsep itu nampaknya masih terlepas dari nilai-nilai luhur ajaran agama, hanya sebatas pada hubungan antar sesama manusia dengan mengabaikan hubungan dengan Tuhan Pencipta Semesta Alam.
Pemimpin yang mendalami dan menerapkan nilai-nilai SQ, ultimate goal nya semata-mata mendapat keridhaan dari Tuhan yang maha Esa.Visi dan misinya sangat jauh kedepan karena dihasilkan dari proses memahami masa lalu (sejarah) yang sangat jauh ke belakang. Mulai dari upaya memahami penciptaan alam dan manusia sampai meyakini bahwa tujuan akhirnya tidak lain adalah akhirat. dengan demikian visinya tidak sebatas sampai akhir kehidupan dunia saja, tapi sampai pada kehidupan akhirat, dimana semua perilaku kita di dunia akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT, Tuhan yang maha Esa dan kita yakin bahwa pengadilan akhirat akan kita hadapi. Oleh karena itu prinsip just do it nya adalah mengerjakan segala sesuatu dengan penuh keikhlasan karena melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang pemimpin, semata-mata mengharap ridha Allah SWT, sehingga ukuran yang digunakannya bukan lagi ukuran manusia tapi sudah menggunakan ukuran Tuhan Pencipta Alam Semesta.
Para juri dan hadirin yang berbahagia,
Pada akhirnya dapat kita pahami bahwa untuk melejitkan diri menjadi seorang pemimpin bukankan tugas yang enteng bagi kita. Berpikirlah untuk memikirkan diri sendiri terlebih dahulu, setelah itu jika telah matang dan mapan dalam trilogy kecerdasan yang telah kita bahas panjang lebar di atas barulah maju menuju pemimpin yang professional dalam segala hal. Begitupun dalam memilih pemimpin jangan sampai kita salah langkah untuk memilih orang-orang yang sebenarya kurang pantas untuk menjadi pemimpin kita. Tapi pilihlah mereka jika telah memiliki trilogy kecerdasan. Yang bukan hanya kematanga intelektual tapi juga cerdik dalam mengelolah emosi dan spiritual.

Para juri dan hadirin yang saya banggakan,
Sungguh saya bahagia berhadapan dan berbicara langsung di depan saudara-saudara sekalian. Biasanya dalam mendengarkan pidato orang-orang cenderung mengantuk atau bahkan mencari objek sendiri agar tidak jenuh mendengarkan pidato. Namun tidak untuk saudara-saudara yang berada disini. Saya melihat cahaya semangat dan antusias yang tinggi dari saudara-saudara sekalian. Saya yakin, sikap yang saudara tunjukan itu merupakan pancaran niat yang mantap dan kesungguhan saudara dalam menimba ilmu di ajang kompetisi pidato ini. semoga hasilnya memuaskan.
Untuk mengakhiri pidato saya kali ini, saya akan membacakan dua pantun
“Jika kura-kura pergi ke sungai
Tentulah dia mencari makan
Jika kata-kata saya melukai hati
Mohon kiranya dapat dimaafkan”

“Jika ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Jika ada umur panjang
bolehlah kita berjumpa lagi”
Terimakasih atas perhatiannya.
Sekian dan Wassalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Halo dunia!

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — ade1808 at 12:01 pm on Selasa, September 1, 2009

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!